Catatan Redaksi : Sebuah refleksi iman Kristen bukan sikap politik
Saat mencermati ketegangan antara Israel dan Iran di tengah hiruk-pikuk berita global, terutama pasca wafatnya pemimpin tertinggi Iran akhir Februari 2026, tertarik pada akar sejarah yang tercatat dalam Alkitab.
Bukan untuk meramal masa depan atau mengambil sikap politik, melainkan untuk merefleksikan iman: di balik konflik manusia, siapa yang benar-benar memegang kendali atas sejarah?
Iman mengajak kita tidak panik, tapi berpaut pada pola abadi Firman Tuhan.
Bayangkan Persia kuno, wilayah yang kini menjadi Iran modern.
Di sana, Tuhan pernah memakai bangsa itu sebagai alat dalam rencana-Nya.
Ester menjadi ratu, Daniel menafsirkan mimpi raja-raja, Nehemia memimpin pembangunan tembok Yerusalem. Silinder Koresh, bukti arkeologi nyata, mencatat dekret Raja Persia yang memulihkan Israel dan membangun kembali Bait Suci (Ezra 1:1-4).
Mari bertanya pada diri sendiri: mungkinkah Tuhan menggunakan Persia sebagai “pelindung” bagi janji-janji-Nya? Itu membuat saya sadar, betapa sering Ia bekerja melalui bangsa-bangsa yang tak terduga.
Jejak Persia bahkan menyentuh hidup Yesus. Para Majus dari Timur (diduga kuat adalahimam-imam Persia) datang menyembah Bayi di Betlehem.
Dan kata “Firdaus” yang Yesus ucapkan di kayu salib, asalnya dari bahasa Persia kuno pairi-daeza, taman tertutup yang melambangkan surga.
Bukan kebetulan, rasanya seperti kode ilahi: Kerajaan Allah melampaui batas politik dan ideologi.
Dulu, dari 1948 hingga 1979, Iran dan Israel adalah mitra strategis, Iran salah satu negara pertama yang mengakui kedaulatan Israel. Lalu Revolusi 1979 mengubah segalanya menjadi ketegangan ideologis.
Kini, di era layar ponsel yang penuh suara konflik, saya diingatkan: sejarah adalah His-Story, cerita-Nya. Takhta dunia goyah, tapi Takhta-Nya tak pernah.
Dalam perenungan ini, saya bertanya apakah ketegangan hari ini murni politik manusia, atau bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar?
Mari berpikir bijak, berdoa bersama—abaikan provokasi, pandang ke atas. Semoga damai sejahtera Kristus memerintah di hati kita dan bangsa-bangsa.



















