Sosialisasi Penggunaan Nuklir di Sulut, Bapetan Mewanti Rumah Sakit

Manado – Penggunaan nuklir ternyata tidak hanya digunakan dalam pembuatan senjata, akan tetapi juga dipakai dalam dunia kesehatan khususnya melakukan rongent kepada pasien.

Hal ini terungkap dalam sosialisasi Fungsi Pengawasan dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir di Indonesia yang dilaksanalan di Hotel Lion dan Plasa Manado, Selasa (14/04/2015) oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapetan).

Sekertaris Utama Bapeten, Hendrianto mengatakan, energi nuklir saat ini sudah bisa digunakan dalam berbagai bidang. Namun kebanyakan masyarakat masih takut bila mendengar yang namanya nuklir. Sebab pengertian masyarakat, nuklir itu merupakan sosok yang sangat membahayakan. Apalagi ketika mengungkit sejarah ketika itu Amerika Serikat melepaskan Bom didua kota Jepang yang bertenaga nuklir sangat besar sampai memporak-porandakan kota tersebut.

“Nuklir itu memang sangat berbahaya, akan tetapi kalau digunakan sesuai keguaannyanya maka nuklir sangatlah bermanfaat. Seperti digunakan di Rumah Sakit (RS), atau di PLTN penyedia tenaga listrik dan lain-lain. Makanya kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak lagi takut karena sudah ada Bapeten yang mengawasi penggunaan nuklir tersebut,”katanya.

Sementara itu, Inspektur Keselamatan Nuklir, Andajani Mulianti memaparkan, penggunaan nuklir di RS terdapat ketika pasien melakukan rongent. Namun dalam penggunaannya sudah ada level sampai berapa radioaktif tersebut dipakai. Sebab jika melebihi akan membahayakan pasien itu sendiri.

“Kami mewanti-wanti disetiap RS agar bisa mengetahui penggunaan rongent tersebut. Dan pada dasarnya setiap dokter mempelajari penggunaan tersebut. Sebab, dalam pengawasan kami, hanya melihat dosis dan ruangan yang dipakai apakah sudah sesuai prosedur. Apabila terjadi kelalaian makan Bapeten juga bisa menindaklanjuti,”ujarnya.

Bapeten juga dalam waktu dekat ini akan mendirikan RPM didua kota besar yakni, kota Bitung dan Manado sebagai pengawasan terhadap pemakaian nuklir yang berlebihan dengan menggandeng BMKG.

“Saat ini pelabuhan menjadi utama dalam pemasangan RPM, sebab melalui jalur inilah banyak bahan-bahan nuklir yang mudah masuk. Dan kedepan juga mengharapkan kerjasama pemerintah dan masyarakat untuk lebih mendalami pemahaman terhadap penggunaan nuklir yang banyak manfaatnya,”pungkas Suharyanta, sebagai Direktur Keteknikan dan Kesiapsiagaan Nuklir.(Ay)

Tinggalkan Balasan