Manado – Atrium Manado Town Square 3, Rabu (12/8/2026) menjadi saksi dimulainya Soft Opening rangkaian acara akbar Urban Digifest 2026 yang merangkai Sulut Coffee Fest dan pameran bertajuk Rupa Rasa Kawanua.
Mengusung tema “Meracik Tradisi Menyeduh Inovasi”, ajang tahunan yang sudah memasuki penyelenggaraan ketujuh sejak pertama kali digelar pada 2019 ini berlangsung hingga 16 Agustus 2026.
Kegiatan yang digagas Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara ini bukan sekadar ajang pameran, melainkan motor penggerak pemulihan dan penguatan ekonomi daerah dengan mengandalkan potensi ekonomi kreatif serta UMKM lokal.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sulawesi Utara memiliki karunia luar biasa yang harus dijaga dan diangkat menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
“Sulut diberkati keindahan alam darat dan laut, serta kekayaan karya dan aktivitas masyarakat yang luar biasa. Identitas daerah ini perlu kita jaga, dan kita wujudkan dalam bentuk nilai ekonomi yang membawa kesejahteraan,” ujar Joko.
Edisi tahun ini diikuti lebih dari 200 pelaku UMKM dari berbagai sektor. Target pengunjung ditetapkan mencapai 60 ribu orang, meningkat dibanding capaian tahun lalu yang mencatat 55 ribu pengunjung. Dari sisi nilai transaksi, tahun sebelumnya tercatat mencapai Rp5 miliar lebih, dan tahun ini diproyeksikan menembus angka Rp6 miliar. Selain itu, realisasi pembiayaan bagi pelaku UMKM ditargetkan melampaui capaian tahun lalu yang menyentuh angka Rp3 miliar.
Joko menambahkan, sektor kopi dipilih menjadi salah satu ikon utama karena memiliki rantai ekonomi yang sangat panjang.
“Rantai kopi sangat luas, mulai dari petani, pengolah, roaster, barista, hingga pelaku usaha kedai kopi. Melalui ajang ini, ekonomi kreatif akan kita dorong untuk melahirkan wirausaha baru, meningkatkan nilai tambah produk lokal, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi para pelaku usaha di Sulawesi Utara,” tegasnya.
Tema “Meracik Tradisi” dimaknai sebagai upaya menegaskan bahwa membangun ekonomi kreatif tidak berarti meninggalkan akar budaya. Justru sebaliknya, kearifan lokal menjadi fondasi lahirnya nilai-nilai ekonomi baru yang khas dan berdaya saing.
“Meracik tradisi berarti membangun ekonomi kreatif tidak harus meninggalkan akar budaya kita. Sebaliknya, tradisi dan kearifan lokal itulah yang akan menciptakan nilai ekonomi baru yang berkelanjutan,” jelas Joko.
Selain pameran produk kopi dan kuliner, rangkaian kegiatan juga meliputi pengembangan Wastra Sulawesi Utara, peragaan busana, kegiatan membatik bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), serta berbagai pendampingan pengembangan kuliner.
Ajang ini juga ditujukan khusus untuk mengajak generasi muda melihat potensi nyata dari warisan leluhur.
“Kami ingin generasi muda semakin menyadari bahwa budaya lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan peluang usaha nyata yang mendatangkan kesejahteraan bagi kita semua,” tambahnya.
Pada sisi inovasi, Urban Digifest 2026 menjadi wadah strategis mendorong UMKM naik kelas dan bertransformasi digital. Pertemuan antara tradisi yang kuat dengan sentuhan teknologi menjadi kunci agar pelaku usaha tidak hanya berjualan, tetapi juga berkembang.
“Tradisi yang kuat harus kita pertemukan dengan inovasi. Oleh karena itu, Urban Digifest bukan hanya ruang jual beli, melainkan ruang untuk belajar, berkolaborasi, memperoleh akses pembiayaan, memperluas pasar, sekaligus bertransformasi secara digital,” ujar Joko.
Seluruh transaksi selama kegiatan ini didorong menggunakan pembayaran digital QRIS sebagai sarana utama. Hal ini dilakukan untuk membiasakan masyarakat melakukan transaksi yang Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal (Cemumuaah).
“Kami berharap masyarakat Sulut semakin terbiasa bertransaksi secara digital, dan para pelaku UMKM semakin mumpuni memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengembangkan usaha, memperluas jangkauan pasar, serta mengakses beragam skema pembiayaan yang tersedia,” pungkas Joko Supratikto.




















