Manado – Persaingan antar pejabat untuk merebut pengaruh atau perhatian atasan diduga terjadi di lingkungan Pemprov Sulut. Persaingan ini menyebabkan terjadinya friksi dan fenomena saling sikut antar pejabat yang mulai tampak ke permukaan jelang berakhirnya kepemimpinan Gubernur Sinyo Harry sarundajang (SHS) dan di masa
Penjabat Gubernur Sumarsono saat ini.
Cara-cara negatif seperti menjelekan, memfitnah bahkan menyulut sentimen berbau SARA ditengarai dilakukan oknum-oknum pejabat. Walaupun di permukaan semua pejabat tampak kompak seolah tidak terjadi apa-apa.
Penjabat Gubernur Sulut, Dr Soni Sumarsono MDM kepada sejumlah wartawan, Selasa (13/10/15), di ruang kerjanya membenarkan adanya friksi ini.
Sumarsono mengatakan, kurang sebulan menjabat Gubernur, ia memang disibukkan dengan urusan ke luar. Masalah kebakaran, kekeringan dan setumpuk permasalahan masyarakat menjadi prioritas penanganan, sehingga urusan ke dalam banyak dikesampingkannya.
Namun demikian, menurut Dirjen Otda Kemendagri ini, bukan berarti ia tidak mengetahui dan mengabaikan masalah internal. “Setiap pagi saya melakukan sidak di SKPD. Di sini saya menemukan permasalahan-permasalahan yang dihadapi termasuk adanya friksi ini. Contoh, ada yang melaporkan ketidakpuasan terhadap oknum pejabat tertentu. Saya tampung menjadi bahan masukan buat saya,” bebernya.
Kepada wartawan Sumarsono berjanji akan menyelesaikan masalah friksi aparatur di bawahnya. “Saya akan tindaklanjuti supaya team work Pemprov Sulut kian solid,” imbuhnya.
Diberitakan sebeelumnya, seorang pejabat struktural eselon II kepada wartawan membenarkan adanya friksi antar pejabat. Pejabat yang enggan namanya ditulis ini, mengungkapkan jika friksi antar pejabat sudah ada sejak kepemimpinan SHS. Namun tidak menyeruak ke permukaan karena kuatnya leadership seorang SHS yang bisa
meredam friksi tersebut. Tetapi, lanjutnya, jelang berakhirnya kepemimpinan SHS, friksi ini semakin kuat dan mulai nampak di permukaan.
“Ada oknum atau kelompok pejabat yang membisikkan ini itu ke atasan. Saya saja pernah jadi korban. Saya beberapa kali coba diusulkan untuk dicopot dari jabatan saya,” ungkapnya.
Mencermati fenomena ini (friksi antar pejabat), Pengamat Politik dan Pemerintahan, Taufik Tumbelaka meminta Penjabat Gubernur Sumarsono untuk peka. Menurut tumbelaka, Sumarsono harus dengan cepat mengenal karakter bawahannya, mengidentifikasi permasalahan terkait friksi antar pejabat dan dengan cepat bertindak mereduksi bahkan mengeliminir friksi ini.
“Saya juga mengamati dari dekat karena banyak berinteraksi dengan pejabat Pemprov Sulut, terlalu banyak kepura-puraan dan kepalsuan yang seolah-olah hubungannya baik, padahal semua saling sikut. Padahal Sumarsono akan berhasil di Sulut bila ditunjang oleh team work (tim kerja) yang solid. Karena itu Sumarsono harus sigap, secepatnya friksi antar pejabat dieliminir,” saran alumnus Fisipol UGM.
Ketua Dewan Pengurus Provinsi Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (DPP-IKAPTK) Sulut, yang juga merupakan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Drs Mecky M Onibala dikonfirmasi wartawan terkait adanya friksi antar pejabat di lingkungan pemprov Sulut, tak menampik.
Menurutnya, friksi di suatu lembaga atau organisasi biasa terjadi. Namun bila sudah mengarah pada hal negatif itu berbahaya. “Saya selalu mendoktrin diri saya untuk tidak iri dan menjelekkan orang lain demi memperoleh jabatan. Ini juga selalu saya tularkan kepada kolega-kolega saya termasuk para yunior dan bawahan saya,” ungkap mantan Kepala Inspektorat Sulut.
Lanjut birokrat yang di era Gubernur SHS pernah diberikan kepercayaan menjadi Penjabat Bupati Minahasa Selatan ini, jabatan adalah kepercayaan yang diberikan atasan. Untuk mendapatkannya, tidak perlu dengan cara menjilat, cari muka (carmuk), menjelekkan orang lain atau cara negatif lainnya. “Bagi saya, sebagai
aparatur pemerintahan, kita tunjukkan saja kinerja yang baik, loyalitas dan integritas. Pasti atasan tak segan memberikan kepercayaan kepada kita,” ujar Onibala.
Ditambahkan, pejabat itu harus jadi seperti pohon pisang yang walau ditebang akan kembali bertunas, bertumbuh dan berbuah. Jangan menjadi pohon jati yang selain ditebang tidak akan bertumbuh, di mana ia tumbuh maka tanaman di sekitarnya tidak akan hidup. “Pasan saya yakni, jadilah pejabat yang menumbuhkan, mengkaderkan bukan mematikan teman-teman lain,” tandas Onibala.




















