Catatan Kritis CSN
PEMILIHAN Walikota (Pilwako) Manado sudah tinggal di depan mata saja. Beberapa calon walikota sudah bermunculan dipermukaan, antara lain GS Vicky Lumentut, Harley AB Mangindaan, Andre Angouw, Teddy Kumaat, Jackson Kumaat, Ivan Sarundajang, Richard Kainage dan lain-lainnya.
Tentu para kandidat tersebut membutuhkan kualitas tim yang mampuni, salah satunya mampu menjawab bahasa media massa, baik media konvensional ataupun media online, serta kemampuan untuk menjawab tantangan atau masalah di masyarakat.
Sehingga tak dipungkiri dalam setiap pesta demokrasi selalu bermunculan oknum-oknum tertentu yang kerjaannya mengais atau mendulang uang dari calon walikota.
Bagaimana caranya ? Para oknum itu merupakan pemain lama yang tentunya sudah malang melintang di perpolitikan di Sulut maupun Kota Manado, dengan tawaran berjibun terhadap calon walikota mereka. Pastinya oknum yang ada, mencari sandaran calon walikota yang belum pasti mendapatkan kendaraan politik.
Biasanya dengan lihainya oknum-oknum tersebut menjual mimpi, terutama terhadap calon walikota dari kalangan profesional. Mengapa demikian ? Jelas, kalau para calon dari seorang politikus tentu sudah mengetahui sepak terjang mereka. Sehingga sasaran empuk mereka terhadap calon walikota yang masih buta terhadap peta perpolitikan yang sudah selama ini terbangun.
Tokoh masyarakat Kota Manado, Johny Sondakh atau biasa disapa “Ca Kodo” ini mengatakan, memang benar sering adanya oknum-oknum yang memanfaatkan dalam pesta demokrasi tersebut. Sehingga jangan heran jika para tim sukses akan benar-benar menjadi sukses disaat masa pencalonan maupun disaat akan berakhirnya masa pesta demokrasi itu.
“Mereka jelas mencari keuntungan dari calon yang ada. Itu masih bagus, tetapi biasanya oknum yang ada malah bisa menjadi blunder bagi calon walikota, karena jelas akan dicitrakan buruk oleh media maupun masyarakat,” kata Ca Kodo.
Hal yang sama dikatakan Ketua Angkatan Muda Pemuda Indonesia (AMPI) Sulut, Iwan Moniaga mengenai para oknum yang pandai bersilat lidah itu.
“Mereka itu bagai penjual obat, yah untuk mencari uang dari calon dengan butanya calon mengenai konstalasi perpolitikan yang ada. Parah jika calon tak menyadari mengenai sepak terjang oknum yang ada. Jadinya tim sukses bermasalah, calon walikota ikut kena getahnya,” jelas Mantan Ketua Presidium GMNI ini, sembari meminta calon yang ada untuk selektif mungkin dalam memilih tim pemenangan yang ada.
Sehingga jangan sampai calon walikota nantinya malah kalah sebelum bertanding dalam pencalonan, yakni tak dapat kendaraan politik, ataupun sudah habis-habisan kemudian harus gigit jari. So..selektif terhadap setiap individu dalam tim. (***)




















