Bank Indonesia Optimis Perekonomian Sulawesi Utara Tumbuh Positif di 2026

Manado – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) optimis perekonomian daerah ini akan terus berada pada tren peningkatan di tahun 2026.

Keyakinan ini didasarkan pada penguatan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi regional.

Deputi Kepala Perwakilan BI Sulut, Renold Asri, menyampaikan optimisme tersebut saat memberikan paparan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 yang berlangsung di Aula Kantor BI Sulut, Jumat (28/11/2025).

โ€œKinerja perekonomian juga akan didukung oleh sektor-sektor pendukung program Makan Bergizi Gratis dan swasembada pangan, khususnya sektor pertanian serta industri pengolahan. Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur yang mendorong aktivitas pariwisata dan perdagangan menjadi faktor penting lainnya,โ€ ujar Renold Asri yang mewakili Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto.

Perkembangan ekonomi Sulut hingga triwulan III 2025 menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,39% (year on year/yoy), mengungguli rata-rata nasional yang berada di angka 5,04% (yoy).

Dari sisi stabilitas harga, inflasi pada Oktober 2025 tercatat 1,48% (yoy), sedikit di bawah rentang target nasional yang diharapkan.

“Komitmen kami adalah menjaga inflasi hingga akhir tahun agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” jelas Renold Asri.

Percepatan digitalisasi sistem pembayaran juga menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga Oktober 2025, jumlah merchant QRIS Sulut telah mencapai 355.386 dan jumlah pengguna QRIS sebanyak 514.138 orang.

Nilai transaksi melalui QRIS selama tahun ini menembus Rp4,63 triliun dengan lebih dari 42 juta transaksi.

Seluruh pemerintah daerah di Sulut juga berhasil mempertahankan status Kategori Digital dalam implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) 2025.

Untuk tahun ini, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulut berada dalam kisaran 5,3% hingga 6,2%, dengan konsumsi rumah tangga dan ekspor sebagai pendorong utama.

Inflasi diperkirakan tetap terkendali pada kisaran target nasional 2,5%ยฑ1%, meskipun terdapat potensi tekanan harga pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta tren kenaikan harga emas global.

Dalam menjaga stabilitas harga, BI memperkuat sinergi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Di Sulut, program ini mendapat dukungan dari pembentukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Penyusun Neraca Pangan yang dibentuk lewat Keputusan Gubernur Nomor 53 Tahun 2024.

Strategi 4K yang diterapkan meliputi Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, BI Sulut juga mengintensifkan kerja sama promosi investasi, perdagangan, dan pariwisata melalui wadah Regional Investment Relations Unit (RIRU).

Berbagai proyek yang sudah siap ditawarkan kepada investor lokal dan asing (Investment Project Ready to Offer/IPRO) terus dipromosikan.

Di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), BI Sulut melanjutkan Program Petani dan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (Patua dan Wanua) yang fokus pada penguatan kelembagaan, kapasitas bisnis, dan akses pembiayaan.

Sepanjang 2025, BI memfasilitasi delapan nota kesepahaman (MoU), dua surat pernyataan minat (LoI), dan transaksi perdagangan mencapai Rp460 miliar.

Pengembangan ekonomi syariah turut didorong melalui penguatan ekosistem produk halal dan pembiayaan syariah yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan