Minahasa – Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Minahasa tahun 2018 sebentar lagi bergulir. Tak pelak, para kandidat yang merasa diri mampu bersaing sebagai calon pun mulai bermunculan.
Selain Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow MSi, tak lain Bupati Minahasa, yang telah menyatakan diri maju dalam ajang tersebut, sejumlah nama seperti Ivan Sarundajang (Ivansa) dan Careig Naichel Runtu (CNR) juga digadang-gadang bakal maju dari Partai Golkar.
Menariknya, Pilkada tahun 2018 diprediksi hanya akan mengerucut pada dua pasangan calon yakni JWS bersama pasangannya nanti yang masih tanda tanya, dan Ivansa-CNR. Bila prediksi ini jadi nyata, siapakah yang bakal menjadi calon wakil JWS nanti, yang kemudian membuat pertarungan merebut papan 1 di Minahasa ini menarik diikuti.
Ada dua srikandi yang kini disebut-sebut bakal mendampingi JWS sebagai Calon Wakil Bupati, dalam Pilkada Minahasa 2018 mendatang. Mereka adalah Imelda Nofita Rewah (INR) yang kini adalah Anggota DPRD Minahasa dari Partai Golkar dan Jeany Mumek (JM), yang adalah Anggota DPRD Provinsi Sulut dari PDI Perjuangan.
Dari rekam jejak serta keterwakilan masing-masing Daerah Pemilihan (Dapil), diantara kedua srikandi tersebut, nampak INR bisa menjadi ancaman tersendiri bagi Partai Golkar yang belakangan tengah mempromosikan duet Ivansa-CNR. Hal ini bisa mungkin, sebab INR bisa memecah belah suara Golkar, secara khusus di Langowan Raya yang semakin hari semakin solid dukung INR. Sebab, INR adalah kader Partai Golkar peraih suara terbanyak di Dapil 4.
Pengamat politik sekaligus mantan kader Partai Golkar James Sumayku menilai, yang paling ditakuti oleh Partai Golkar tentu adalah INR. Selain karena popularitas INR kini tengah menanjak, menurutnya, hanya INR-lah yang dianggap Golkar bakal menjadi petaka bagi pasangan IVANSA-CNR, jika jadi berpasangan dengan JWS.
“Untuk itu, apapun alasannya , Golkar akan berusaha agar INR tidak diakomodir untuk mendampingi JWS, karena jika itu terjadi maka, ini adalah malapetaka bagi Partai Golkar,” ujar Sumayku.
Lanjut dia, beragam cara dilakukan untuk menghadang INR, mulai dari menyebar gosip keluarga INR, gosip INR punya hubungan khusus dengan JWS, karena selalu bersama JWS, serta beragam gosip lainnya yang terus diangkat supaya INR gagal menjadi calon wakil Bupati pendamping JWS.
“Apalagi di Sulut mayoritas masyarakatnya tidak lagi melihat itu, yang sifatnya hanya cerita saja alias gosip, buktinya ada beberapa calon perempuan waktu Pilkada lalu, di fitnah habisan-habisan oleh lawan politik, tapi hasilnya? rakyat tetap pilih kan? Rakyat hanya butuh komitmennya, untuk bangun daerah, itu yang penting,” ujarnya.
“Saya adalah teman JWS yang sering mendampingi JWS saat mengunjungi masyarakat, apakah itu pelantikan Hukum Tua, pelayanan ibadah, serta acara lainnya. Memang dibeberapa kesempatan INR selalu hadir, namun saya tidak melihat ada yang aneh. Saya justru melihat INR hadir hanya dalam kapasitas dia sebagai anggota DPRD dan juga dalam kaitan dia untuk berpromosi saja,” tegas Sumayku.
Seluruh cara yang digunakan tersebut, lanjut Sumaiku sudah tidak laku di Minahasa serta tidak akan mempengaruhi elektabiltias INR yang kini berada hampir sejajar dengan IVANSA-CNR. Apalagi ketika INR terakomodir untuk menjadi pendamping JWS, maka dipastikan INR bakal segera bergabung dengan PDI Perjuangan, dan Kabupaten Minahasa bakal mengukir sejarah baru bahwa untuk pertama kali, Wanita bisa menjadi wakil pemimpin daerah.
“Hanya memang kepastian diakomodirnya INR harus menunggu mekanisme yang berlaku di internal PDI Perjuangan, termasuk juga harus bersaing dengan JM serta calon wakil bupati yang juga tengah diorbitkan yakni Jeffry Robby Korengkeng (JRK),” tukasnya.
Dia juga menilai bahwa ketika INR akhirnya disandingkan dengan JWS, maka PDI Perjuangan kembali mengulang sejarah merekrut orang yang terzolimi di Golkar yang akhirnya bisa menjadi pemenang dalam Pilkada.
“Dulu JWS dizolimi, tapi akhirnya apa? kan bisa menang. Sekarang INR juga dizolimi dan dipasangkan dengan JWS yang kini sudah menjadi kader asli serta Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Minahasa, maka sudah pasti, kemenangan besar akan diraih PDI Perjuangan,” ungkapnya dengan nada optimis.
Tolak ukurnya mengapah kemenangan besar ada di dapil 4 terutama Langowan, dijelaskan Sumaiku, karena selain INR menjadi satu-satunya calon yang berasal dari Langowan, yang mengoleksi kurang lebih 35 Ribu pemilih, juga didukung dengan adanya pembangunan infrastruktur jalan dan taman yang kini sementara dan sudah dilakukan oleh JWS di Langowan.
“Yang pasti, memang tidak 100 % para pemilih di dapil 4 akan memilih INR, namun menyatunya JWS dan INR, bakal mengawinkan 2 dapil terbesar yakni dapil 1 (JWS) dan Dapil 4 (INR), dimana jika kedua dapil tersebut menyatu maka kemenangan sudah didepan mata,” pungkasnya.(fernando lumanauw)


























