Minahasa – Desa Winebetan Jaga I Kecamatan Langowan Selatan, Selasa (06/12) pagi tadi sekitar pukul 07.00 Wita, dihebohkan dengan penemuan sesosok mayat disalah satu rumah milik keluarga Wauran-Tigauw.
Setelah ditelusuri, sesosok mayat tersebut ternyata wanita lanjut usia (Lansia), teridentifikasi bernama Marin Tigauw (80), warga setempat, yang memilih mengakhiri hidup dengan cara diduga gantung diri.
Adik korban, Dintje Wauran (78), yang pertama kali mengetahui kejadian ini mengatakan, pagi itu dirinya pergi ke pasar. Sekembalinya dari pasar dan setibanya dirumah, dirinya meminta korban untuk membukakan pintu. Namun, lama memanggil tak ada jawaban dari dalam rumah yang kala itu diketahui ada kakaknya.
“Sesampainya di rumah, saya mengetuk pintu dari luar dan memanggil-manggil korban agar membukakan pintu. Akan tetapi, lama memanggil tidak ada jawaban dari kakak saya,” ujar saksi.
Tidak mendapat jawaban dari dalam rumah, Dintje pun berinisiatif menemui tetangganya Lince Surentu (61), meminta bantuan membuka pintu depan secara paksa.
“Setelah kami berhasil masuk sampai didapur, kami menemukan korban telah gantung diri dipintu dapur dengan seutas tali nailon. Waktu kami lihat, posisi kakinya tergeletak dilantai, lidahnya sudah terjulur keluar dan korban mengeluarkan air seni,” pungkasnya.
Kapolres Minahasa AKBP Syamsubair SIK ketika dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurutnya, hasil olah tempat kejadian perkara dan dari sejumlah keterangan saksi menyebutkan, korban murni gantung diri, bahkan pernah berupaya melakukan bunuh diri dua tahun silam, penyebabnya diduga karena korban sakit-sakitan dan frustrasi dengan sakit yang dideritanya.
“Dari keterangan keluarga korban Lisye Pangalila (58) dan Hukum Tua Desa Winebetan Sherdi Palit, korban tidak menikah dan tinggal bersama dengan adiknya Dintje Wauran yang juga tidak menikah. Menurut keluarga, korban akhir-akhir ini kerap sakit-sakitan dan bahkan pada sekitar dua tahun lalu korban juga pernah berupaya melakukan bunuh diri masuk ke dalam sumur namun dapat diketahui oleh keluarga,” ujar Syamsubair.
Sementara, oleh pihak keluarga menolak korban diotopsi. Namun, dari hasil visim luar pihak Puskesmas Manembo, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan.(fernando lumanauw)

























