Tomohon – Tensi politik di Kota Tomohon semakin memanas jelas 35 hari menuju Pilkada serentak di tanggal 9 Desember 2015. Kampanye hitam atau disebut black campaign terus terjadi di Tomohon, menyoal siapa kandidat yang layak menjadi Walikota dan Wakil Walikota Tomohon periode 2015-2020.
“Black campaign banyak terjadi di media sosial (medsos) karena medsos sedang marak digunakan masyarakat dan dianggap salah satu cara paling efektif untuk menyampaikan visi misi pasangan calon, namun seringkali sudah salah digunakan karena menyebar kampanye hitam,” kata Ferlansius Pangalila SH MH, Komisioner Divisi Hukum dan Teknis Penyelenggaran dan Pengawasan KPU Tomohon, Senin (02/11/2015).
Untul itu ia menghimbau semua pendukung dan simpatisan untuk bersaing sehat.
“Marilah saling perang dan beradu soal program kerja. Jangan menjadikan sisi lemah atau isu-isu tak mendasar sebagai komoditi yang empuk untuk dijadikan kampanye hitam di medsos atau media-media lainnya,” ujar Pangalila.
Untuk itulah kampanye tertutup maupun rapat terbuka bertujuan untuk menyampaikan visi dan misi calon agar benar-benar diserap warga pemilih.
Sementara itu dari pantauan di medsos facebook, dugaan black campaign memang dilakukan sejumlah akun dari tiga pasangan calon walikota dan wakil walikota Tomohon.
“Ada yang menggunakan identitas asli dan palsu. Paling banyak disorot adalah kinerja incumbent yang dianggap gagal. Hal ini memang menjadi makanan empuk bagi lawan-lawan politik untuk menyatakan ke publik bahwa calon incumbent yang maju lewat jalur independent gagal dan tak banyak berbuat di Tomohon,” kata tokoh pemuda Kota Tomohon, Vecky Sualang.
Namun menurut Sualang,warga Tomohon sudah pintar untuk menelaah mana kampanye sehat berbobot dan mana kampanye untuk menjatuhkan.
“Saya yakin di tanggal 9 Desember nanti, masyarakat Tomohon sudah tahu mana yang akan mereka pilih sesuai hati nurani,” tukasnya. (maria)






















