
Tomohon – Pasca ambruknya jembatan Bailey di Km 13 usai gempa pada Sabtu (15/11) lalu membuat pengguna jalan semakin was-was melewati jalan ini. Meski pun Pemkot Tomohon langsung memperbaiki jembatan darurat ini, jembatan ini sepertinya tinggal menunggu waktu untuk ambruk lagi dengan akibat yang lebih parah.
“Terus terang saya lebih was-was melewati dua jembatan Bailey ini. Apalagi setelah gempa Sabtu lalu. Bisa saja konstruksinya lebih lapuk. Ini yang saya khawatirkan dari jauh-jauh hari,” tutur Winda warga Tomohon yang sehari-harinya menggunakan jembatan ini untuk ke Kota Manado.
Sistem “tambal sulam’ yang digunakan pemerintah untuk memperbaiki jalan ini tak akan melindungi pengguna jalan lebih lama lagi. Apalagi jembatan ini banyak dilewati kendaraan dengan muatan lebih dari 5 ton yang seharusnya dilarang menggunakan jembatan ini. Menurutnya dengan situasi cuaca hujan yang cukup ekstrim, bisa saja semakin mempercepat ambruknya jembatan ini.
“Jangan menunggu jatuh korban jiwa lagi baru pemerintah turun tangan. Jembatan ini sudah berpotensi merenggut korban. Pemerintah harus segera bertindak,” ujarnya.
Pemkot Tomohon sendiri mengaku sudah berupaya maksimal untuk perbaikan ruas jalan Tomohon-Manado, temasuk dua jembatan Bailey Tinoor.
“Ruas jalan Tinoor-Warembungan sedikit lagi bisa digunakan. Kalau pun dengan situasi emergency seperti itu, jalan itu bisa digunakan,” jelas Sekda Tomohon Dr Arnold Poli SH MAP.
Untuk perbaikan menyeluruh jalan Tomohon-Manado merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Nasional Jalan dan Jembatan yang tertunda pembangunannya dikarenakan pemotongan dana dari pemerintah pusat untuk anggaran tahun 2014.
“Semua akses jalan alternatif sudah diupayakan Pemkot Tomohon untuk direhabilitasi menggunakan dana APBD. Semoga tahun depan ruas jalan bekas longsor sudah bisa diperbaiki. Masyarakat tetap waspada dan hati-hati dengan berbagai macam potensi bencana,” ujar Poli sambil menambahkan Pemkot Tomohon terus memantau situasi ruas jalan Tomohon-Manado dan berkoordinasi dengan pihak terkait. (maria wolajan)





















