
Manado-Pemanfaatan klaster kelapa kembali digenjot Propinsi Sulut agar para industri mampu menghadapi persaingan dalam pasar bebas Asean Tahun 2015 nanti.
Kali ini melalui kegiatan fokus group discussion (FPD) yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut.
Diskusi ini dengan menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, Ellen Pakasi, Charles Kepel dan Sutomo Palar. Dengan peserta instansi terkait kabupaten/ kota, serta pelaku usaha. Salah satu pembicara Ellen Pakasi mengatakan, masih banyak klaster kelapa di Sulut yang belum dimanfaatkan petani, karena Sulut sendiri kaya dengan kelapa.
“Seperti kopra putih, lebih mahal harganya dibandingkan kopra biasa, tapi kurang dimanfaatkan karena kendala teknologinya. Itulah sebabnya pemerintah akan berupaya pengadaan tungku atau tempat mengola kopra putih,” ujarnya. Dengan hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sulut, menurut Pakasi, maka industri kelapa ini harus lebih dikembangkan lagi. “Nantinya ada Pokja KEK yang akan mesosialisasi industri kecil ini, termasuk di dalamnya industri kelapa,” ungkapnya. Sementara menurut Charles Kepel, klaster kelapa ini harus memanfaatkan teknologi, seperti bagaimana meningkan hasil kelapa dengan menggunakan bibit unggulan kelapa yang baik. “Tentunya pengolahannya dari hulu sampai hilir, artinya semua turunan kelapa harus dimanfaatkan,” papar Kepel. Kepala Disperindag Sulut Olvie Atteng, melalui Kabid Industri Benny Nongkan mengatakan, klaster kelapa sudah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu, namun harus diakui belum berkembang sebagaimana diharapkan, karena itu dilakukan diskusi mencari alternatif terbaik. “Satu sasaran kita, yakni kelapa menjadi produk kehidupan masyarakat di Sulut, karena itu pengembangan klaster industri kelapa akan terus didorong,”katanya Ditambahkan, klaster kelapa merupakan salah satu program pemerintah yang diarahkan mendorong pengembangan industri kelapa daerah ini sehingga dapat memberi manfaat besar kepada petani kelapa. Diketahui dari FPD ini menghasilkan sejumlah rekomendasi, di antaranya, Menyusun konsep 15 kabupaten dan kota soal turunan kelapa di Sulut yang mempunya nilai tambah, bentuk satu sistem kelapa terpadu dalam KEK, harus ada areal kelapa tepada. Serta pentingnya sosialisasi di sekitar Kawasan KEK, agar semua industri masuk KEK dan mendesain klaster kelapa di Sulut.(Nancy)




















