Manado – Ratusan pelayan khusus (Pendeta, Penatua, Syamas) yang memenuhi gedung gereja GMIM Patmos Bunaken, Selasa (04/10) sore tercengang.
Pidato Wakil Gubernur Steven Kandouw seperti menghipnotis para peserta Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) ke-29 tahun 2016 ini.
Dengan gaya khasnya, kocak, lugas, terstruktur dan langsung menohok ke inti permasalahan, Wagub menyampaikan pesan, ajakan serta kritik.
Momentum SMST, Wagub mengajak peserta untuk mencermati 5 isu penting di Sulut.
Isu pertama yakni index pembangunan manusia (HDI) Sulut yang turun dari peringkat 2 ke peringkat 7. “HDI ditentukan oleh berbagai komponen seperti, pendidikan, kesehatan, angka harapan hidup dan lainnya,” kata Wagub.
Peran GMIM, kata Wagub, sangat penting dalam mendongkrak peringkat HDI. GMIM memiliki sekolah, rumah sakit dan sumber daya lain yang memadai untuk mencerdaskan, menyehatkan, membuat umur panjang dan sebagainya.
Isu kedua, yakni menurunnya nilai Tukar Petani dan Nelayan Sulut. GMIM harus bisa mendorong jemaat untuk penguasaan dan peningkatan ketrampilan agar terjadi diversifikasi pekerjaan.
Isu selanjutnya yakni gene ratio yaitu terjadinya jurang antara si kaya dan si miskin. Fenomena ini harus dicermati dan diatasi dengan memberikan penyadaran kepada jemaat untuk lebih meningkatkan kesetiakawanan. Yang kaya membantu yang miskin.
Wagub sempat menyindir maraknya oknum pendeta yang bergaya hidup mewah, sementara banyak jemaat yang masih berada di bawah garis kemiskinan. “Pendeta harus lebih peka terhadap keadaan sosial jemaat,” ujarnya.
Selanjutnya isu globalisasi, di mana makin majunya teknologi informasi yang berimplikasi pada terjadinya pergeseran nilai di masyarakat.
“Semakin majunya teknologi informasi, kadang membuat warga gereja lebih garang dari preman pasar. Umpatan, ungkapan kebencian, penghakiman dan sebagainya berseliweran di sosial media. Ini tantangan bagi kita terlebih khusus para pelayan khusus,” sambungnya.
Isu terakhir yakni radikalisme dan fundamentalisme. Isu ini menurut Wagub, jangan hanya dilihat terjadi di luar seperti teroris Poso atau lebih luas lagi ISIS, tetapi warga Gereja juga berpotensi terlibat radikalisme dan fundamentalisme. “Karena itu Gereja harus mengambil peran menangkal dan mereduksi faham tersebut,” serunya.
Wagub selanjutnya mengingatkan untuk terus menjaga jati diri GMIM sebagai alat untuk membawa dan menjaga jemaat tetap bersama Juru Selamat.
“Sekitar 700 ribu warga GMIM harus meyakini bahwa gereja ini bisa membawa kepada jalan keselamatan yaitu Yesus Kristus.
Diketahui, Wagub membuka secara resmi Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) ke-29 GMIM tahun 2016 yang digelar di GMIM Patmos Bunaken mulai 4 Oktober hingga 7 Oktober nanti.
Sidang tahunan ini dihadiri oleh Ketua BPMS Pdt DR HWB Sumakul, Sekretaris Pdt DR HCM Runtuwene dan ratusan peserta yang merupakan perutusan wilayah dan jemaat.
Agenda SMST yakni membicarakan program GMIM tahun 2017 serta melakukan evaluasi program tahun 2016.
Sebelumnya telah dilaksanakan Ibadah dipimpin oleh Wakil Sekretaris BPMS Pdt Jani Rende MTh.
Ketua Panitia SMST, Pdt Mosal-Karoles mengucapkan terima kasih atas kehadiran dari Wakil Gubernur beserta rombongan dan peserta Sidang yang hadir pada pertemuan ini.
“Semoga keputusan yang diambil dalam sidang ini bisa membawa berkat bagi Gereja Masehi Injili di Minahasa,” harap Karoles.

























