Keberadaan Jasad Kepsek SMA Adven Klabat Masih Misterius, Polda Sulut Gunakan ROV TNI AL

Alat ROV atau Remotely Operated Vehicles milik TNI AL yang digunakan Tim Manguni Polda Sulut mencari jasad Kepsek SMA Adven Klabat.
Alat ROV atau Remotely Operated Vehicles milik TNI AL yang digunakan Tim Manguni Polda Sulut dalam pencarian jasad Kepsek SMA Adven Klabat.

Manado – Keberadaan jasad Kepala Sekolah (Kepsek) di SMA Adven Klabat, Esrom Sentinuwu yang diduga dibunuh dan ditenggelamkan empat pelaku masing-masing, Brigadir JL alias Jeklin, LP alias Nita, JP alias Jil dan NP alias Novri di perairan Inobonto Bolmong, hingga kini masih misterius.

Tim Manguni Polda Sulut, besutan Kombes Pol Pitra Ratulangi itu pun masih berupaya mencari keberadaan korban. Satu alat ROV atau Remotely Operated Vehicles milik TNI AL digunakan untuk mencari jasad korban yang ditenggelamkan didasar laut dengan kedalaman mencapai ratusan meter.

“Polda Sulut join investigasi dengan TNI AL untuk mencari jasad korban yang ditenggelamkan di dasar laut. Kita sudah meminjam alat ROV untuk mencari keberadaan korban. Mudah-mudahan dengan alat ini korban bisa dengan cepat kita temukan,” terang Kombes Pol Pitra Ratulangi kepada wartawan, Senin (09/11/2015).

Ia pun menambahkan, alat ROV milik TNI AL akan langsung dibawa pihaknya dan dilepas ke laut Inobonto, Bolmong. Seperti informasi yang diperoleh Cybersulutnews.co.id, sejak Senin (26/10/2015) sore, pelaku telah diamankan Tim Manguni di Polda Sulut.

Dari keterangan yang dituturkan pelaku Jeklin, oknum anggota polisi di Polsek Tenga, Minsel. Ia menghabisi nyawa korban lantaran sakit hati mengetahui pelaku Lisa telah menjalin hubungan dengan sang korban.

Padahal kata Jeknil, Lisa adalah pacarnya. Niat ingin menghabisi nyawa korban pun langsung muncul dibenah Jeklin. Rencana untuk menculik korban kemudian mulai disusun.

Puncaknya, Selasa (20/10/2015), para pelaku menculik korban di dekat tugu Boboca Malalayang, selanjutnya dibawa ke Desa Inobonto. Sepanjang perjalanan, korban selalu dihajar pelaku. Korban pun meninggal setelah dihajar pelaku dengan batu.

Jasad korban sempat dikuburkan selama beberapa jam di Inobonto. Tak puas hanya melihat jasad korban dikubur, para pelaku lalu membawa jasad korban ke tengah laut kemudian ditengglamkan.

Untuk menghilangkan jejak, para pelaku mengikat jasad korban dengan batu. (jenglen manolong)

Tinggalkan Balasan