Manado – Keluarga besar Polri kembali berduka. Seorang perwira Korps Brimob Polda Sulawesi Tengah (Sulteng), Iptu Bryan Theophani Tatontos, tewas setelah terlibat kontak senjata dengan kelompok teroris saat melaksanakan tugas di wilayah Pegunungan Gayatri, Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulteng, Rabu (19/08/2015).
Putra daerah Sulut berusia 23 tahun yang merupakan lulusan termuda Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 2012 ini, menghembuskan nafas terakhir setelah mengalami luka tembak di bagian perut dan kaki.
Terkait peristiwa ini, Komandan Korps (Kakor) Brimob Polri, Irjen Pol Robby Kaligis, ketika dikonfirmasi wartawan, membenarkan gugurnya putra daerah asal Sulut dalam pertempuran di lokasi.
“Memang benar adanya, almarhum meninggal saat sedang tugas. Itu sudah menjadi resiko saat bertugas, jadi kita harus lebih berhati-hati dan waspada karena musuh tidak bisa kita anggap remeh, musuh ada di mana-mana. Mengejar kelompok teroris tidak boleh berhenti, harus terus kerja keras dan teliti,” kata Kaligis melalui telepon genggam, Kamis (20/08/2015).
Lebih lanjut mantan Kapolda Sulut itu mengungkapkan, dirinya akan menuju ke Kota Palu Sulteng untuk memimpin upacara sekaligus pemberian penghormatan terakhir bagi Iptu Bryan.
“Dia (Bryan, red) akan diberikan penghargaan kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi, dan upacara akan saya pimpin langsung. Tugas sudah dilaksanakan sebaik mungkin, dan dia sudah memberikan yang terbaik bagi bangsa dan Negara. Oleh karena itu, kami keluarga besar Korps Brimob menyampaikan turut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya putra daerah terbaik,” tuturnya.
Kapolda Sulut Brigjen Pol Drs Wilmar Marpaung SH, turut menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya putra dari pasangan Kompol Lody Tatontos dan Iptu Telly Lombotariang yang bertugas di Polda Sulut.
Ayah Bryan sendiri menjabat sebagai Kabag Sumda Polres Talaud, sedangkan Ibunya sebagai penyidik Subdit Tipiter Dit Reskrimsus Polda Sulut.
“Polri berduka dan saya turut bersedih. Saya juga sangat kaget ada putra Sulut yang menjadi korban dari penembakan teroris di Poso. Dia kita anggap pahlawan karena gugur saat sedang menjalankan tugas. Jadi kita doakan supaya almarhum bisa diterima di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, Polri juga turut berdukacita sedalam-dalamnya dengan kepergian almarhum,” ungkap Kapolda, saat ditemui wartawan di Mapolda Sulut.
Sementara, informasi yang diperoleh, Bryan dikenal sebagai anak yang berprestasi saat sekolah. Menurut penuturan salah satu keluarga korban, Bryan sering mendapat juara kelas saat bersekolah, bahkan dirinya masuk kelas akselerasi saat SMP dan menjadi Purna Paskibraka Angkatan 2008.
Terpantau, ketika awak media menyambangi kediaman korban di Aspol Pakowa, suasana di sana tampak seperti tidak terjadi apa-apa karena keluarga belum mendapat informasi pasti terkait kematian Bryan.
Hingga akhirnya pihak keluarga mendapat informasi dari Mako Brimob Poso, bahwa Bryan telah meninggal karena kehabisan darah. Rencananya, jenazah Iptu Brian akan dikebumikan di Manado.
Kronologis kejadian yang dirangkum menyebutkan, baku tembak antara kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso ini, terjadi sejak Senin (17/08/2015) hingga Rabu (19/08/2015) lalu.
Dalam kontak senjata itu, satu orang terduga teroris Urwah alias Bado, tewas di lokasi Pegunungan Gayatri. Sedangkan Iptu Bryan yang bertindak sebagai Komandan Kompi (Danki) saat itu memimpin dua regu Brimob untuk melakukan evakuasi mayat teroris Poso, di Pegunungan Gayatri, Poso.
Tim yang dipimpin Iptu Bryan, kemudian mengamankan barang bukti bom dan senjata api M-60. Ketika hendak kembali ke Markas, di tengah perjalanan kelompok teroris Poso pimpinan Santoso ternyata menyanggong tim evakuasi.
Kontak tembak pun terjadi, Iptu Bryan Tatontos yang saat itu hendak menyeberang sungai dengan posisi barisan kedua terakhir tertembak di perut dan kaki. Jenasah Iptu Bryan pun dikabarkan dievakuasi menggunakan helicopter, karena lokasi cukup jauh dengan medan yang sulit ditempuh.
Pasca kejadian tersebut, ratusan personil elite dari Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, langsung diterjunkan ke bekas wilayah konflik Poso untuk memburu kelompok Santoso di pegunungan Poso.
Ratusan polisi tersebut tiba di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Kamis (20/08/2015), dengan pesawat komersil. Selain menurunkan ratusan aparat, Polda Sulteng juga menyekat pintu keluar masuk wilayah Poso untuk mempersempit ruang gerak dari kelompok Santoso alias Abu Wardah. (jenglen manolong)

























