Manado – Kinerja Satuan Lalu Lintas (Sat lantas) Polres Minahasa yang dinahkodai AKP Risno Luas disorot. Kasus dugaan pungutan liar alias pungli jadi penyebab. Sejumlah masyarakat di Kabupaten Minahasa pun mendesak agar Kapolda Sulut, Brigjen Pol Wilmar Marpaung mengevaluasi kinerja AKP Risno Luas.
“Kasus dugaan pungli ini bukan baru kali ini dipraktikan oleh anggota Sat Lantas Minahasa. Tetapi sudah berulang-ulang. Kami meminta agar Kapolda Sulut mengevaluasi kinerja Kasat Lantas yang notabennya adalah top leader di jajaran Lalu Lintas,” terang Ruddy Lumenta supir mikro Tondano kepada wartawan, Kamis (08/10/2015).
Ia pun melanjutkan, jika hal yang sudah mencoreng citra kepolisian itu tidak ditindak lanjut Kapolda, maka kejadian seperti itu akan terus terjadi. Masyarakat pun yang nantinya dirugikan.
“Disini masyarakat yang nantinya dirugikan. Jangan biarkan kejadian ini terjadi berlarut-larut. Masih banyak polisi yang baik hati yang benar-benar ingin melayani masyarakat. Kami pun meminta agar bapak Kapolda menindak oknum polisi yang berbuat demikian,” sambungnya berharap.
Hal senada dikatakan Ednan Lontoh, salah satu tukang ojek di Tondano. Ia pun meminta agar Kapolda mengevaluasi kinerja dari Kasat Lantas Polres Minahasa, AKP Risno Luas.
“Kapolda harus tegas dan evaluasi kinerja Kasat Lantas. Jika Kapolda sudah evaluasi Kasat Lantas giliran Kasatnya yang mengevaluasi kinerja anggota yang ada di lapangan. Kalau Kasat tidak mampu lebih baik diganti saja,” sembur Ednan.
Direktur Lalu Lintas (Dir Lantas) Polda Sulut, AKBP Subandriya sendiri terkejut ketika melihat aksi dan kelihayan anggota Polres Minahasa ketika menggelar operasi di Tataaran Patar.
Untuk memperbaiki tingkah atau kelakuan dari polisi nakal yang diduga sering mengambil keuntungan dari para pengendara yang terjaring razia di jalanan, AKBP Subandriya bertekat untuk menindak oknum tersebut.
“Saya akan tindak. Tapi sebelumnya, saya masih akan kordinasikan dulu dengan Kapolres dan Kasat Lantasnya. Karena saya belum bisa memastikan itu uang pungli atau uang apa,” kata AKBP Subandriya, Rabu (07/10/2015) sore, kepada sejumlah wartawan.
Meski masih akan mengecek bilamana di Sat Lantas Polres Minahasa yang dikomandani, AKP Risno Luas ada dugaan pungli. Namun, Subandriya sudah menyalahi perbuatan Polantas yang mengambil uang kepada pengendara yang terkena razia.
“Tidak ada peraturan seperti itu di Lalu Lintas. Kalau itu uang titipan tilang bukan disitu tempatnya. Itu merupakan tindakan yang tidak etis,” tegasnya sambil memperhatikan foto dari anggota nakal yang menggelar operasi di Minahasa.
“Tapi saya akan menelusuri aksi dari anggota ini. Kalau salah akan diperbaiki. Terima kasih. Foto ini adalah salah satu tindakan yang bisa memperbaiki polisi,” sambung AKBP Subandriya dengan nada ramah.
Ia pun meminta kepada masyarakat, bilamana di lapangan ada oknum polisi yang tidak sopan saat menggelar razia, agar memberitahukan pangkat dan nama anggota tersebut.
“Lihat namanya, pangkatnya apa. kesatuannya mana. Polres atau Polda dan beritahu saya. Kalau perlu foto oknum tersebut,” ungkapnya sembari meminta agar masyarakat Sulut dapat membantu petugas dalam menciptakan situasi aman dan tertib dalam berkendara.
Seperti dalam foto yang diabadikan masyarakat, Senin (05/10/2015) siang itu, salah satu anggota polisi di Sat Lantas Polres Minahasa diduga langsung mengembalikan kunci kendaraan setelah seorang wanita yang terjaring razia di Jalan Tataaran Patar Tondano memberikan sejumlah uang.
Uang tersebut pun ditaru didepan mobil jenis Mitsubishi Kuda berwarna putih. Selain anggota polisi, dalam foto tersebut juga nampak dua orang petugas dari Dinas Perhubungan Minahasa.
Dari informasi yang diperoleh Cybersulutnews.co.id, selain meminta uang damai kepada pelanggar, salah satu anggota yang diketahui bernama Brigadir Rarawona, nampak arogan ketika menggelar sweeping di jalan Tataaran Patar, Senin (05/10/2015) siang.
Bagaikan preman kampung, pengayom masyarakat itu langsung mencegat dan mencabut kunci kendaraan roda dua dan empat milik pengendara yang melintas di daerah itu.
“Setelah saya memberikan SIM dan STNK, polisi yang diketahui bernama Rarawona itu langsung mencabut kunci kendaraan bermotor saya. Saya jadi bingung. Dalam hati saya bertanya salah apa saya,” kata salah satu pengendara kendaraan Yamaha Vixion yang mengaku bernama Rivaldo.
“Tapi saya takut melawan. Saya pun hanya diam dan menyaksikan kunci kendaraan saya diambil dan diserahkan ke salah satu polisi yang berdiri di depan mobil berwarna putih,” sambungnya.
Senada dikatakan Grace, pengendara mobil yang terjaring. Kepada wartawan, ia mengatakan ketika mobil yang dia kendarai dihentikan. Brigadir Rarawona yang berpostur tubuh tinggi langsung mencabut kunci kendaraan mobilnya.
“Dia langsung cabut kunci mobil saya dan minta memperlihatkan surat-surat. Ketika saya tunjukan dia (Brigadir Rarawona, red) langsung mengijinkan saya meneruskan perjalanan,” kata Grace yang mengaku hendak pulang ke Desa Remboken. (jenglen manolong)




















